UTAnIU adalah sebuah Badan Super yang mendukung dan melindungi bagi mereka yang cerdik dan pintar untuk mengambil kesempatan emas ini dan berbagi keseluruh pelosok dunia. Karena itu UTAnIU tidak terikat atas segala Perjanjian, Traktat, Konvensi ataupun ikatan lainnya yang dilakukan Negara-Negara. Jangan lewati kesempatan ini, karena ini berguna bagi generasi dan seterusnya. Dan bagi anda, para pengguna internet, mari bersama mencapai kemakmuran bangsa, karena anda juga anggota UTAnIU. Bagikan informasi ini dan daftarkan nama anda melalui email, cantumkan nama, Tanda Pengenal, dan alamat email, dan jangan lupa menjadi follower dalam blog ini, karena kesejahteraan adalah hak anda.

Wednesday, July 6, 2011

BUNUH DIRI VS HIMPITAN EKONOMI, TRAGEDI SUATU IRONI

Di Provinsi Bali, berdasarkan data yang dihimpun Kepolisian Daerah Bali selama lima bulan tahun 2008 sebanyak 70 kasus, sementara tahun 2009 ada 39 kasus.
Jelas ini sangat memprihatinkan, apalagi latar belakang para pelaku bunuh diri karena sakit yang menahun ada 25 kasus, terhimpit masalah ekonomi 5 kasus, dan frustasi ada 9 kasus. Yang membuat miris, justru terbesar dilakukan petani sebanyak 22 kasus, swasta 10 kasus, buruh dan pelajar masing-masing 5 dan dua kasus.
Pada tahun 2005, tingkat bunuh diri di Indonesia dinilai masih cukup tinggi. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2005, sedikitnya 50.000 orang Indonesia melakukan tindak bunuh diri tiap tahunnya. Dengan demikian, diperkirakan 1.500 orang Indonesia melakukan bunuhdiri per harinya.

Sementara untuk tahun 2007, terdapat 12 korban bunuh diri karena terimpit persoalan ekonomi, delapan kasus lainnya akibat penyakit yang tak kunjung sembuh lantaran tidak punya uang untuk berobat, dan dua kasus akibat persoalan moral yakni satu orang lantaran putus cinta, dan seorang akibat depresi.

Kalau kita kaitkan pada masalah tekanan ekonomi, kita setuju bahwa tekanan ekonomi ini adalah salah satu pemicu yang dominan untuk bunuh diri. Jangan main-main, kita sering melihat karena uang, banyak orang bisa membunuh sesamanya bahkan kekerasan meningkat karena kebutuhan akan kecukupan ekonomi yang menuntut dirinya.
Lantas, benarkah tingginya angka bunuh diri ini disebabkan oleh krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita? Tampaknya, jawaban ya memang harus diberikan. Sekadar perbandingan, menurut satu penelitian di Amerika Serikat, setiap kenaikan angka pengangguran sebesar 1 persen di negara tersebut, ternyata, memicu angka bunuh diri jadi meningkat rata-rata 4,1 persen.
Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater yang juga guru besar Fakultas Kedokteran UI, menyatakan kenaikan angka bunuh diri ini sebetulnya bisa diramalkan. "Krisis semakin berat, sementara tidak semua orang punya daya tahan," ujar Dadang. Dan bila dilihat bahwa kebanyakan korban bunuh diri ini berasal dari kalangan bawah, itu memang karena kelas inilah yang paling rentan terhadap krisis. Yang mentalnya tak kuat memilih bunuh diri, sementara yang kuat terpicu menjadi pelaku kriminal atau ikut menjarah kalau cara halal tak bisa ditemukan. Dadang sendiri mengaku cemas bahwa tingginya angka kasus ini bisa makin meledak bila pemerintah bersikap masa bodoh. "Memang, menurut agama, bunuh diri itu dilarang. Namun, mereka juga korban dari pemimpin yang menelantarkan mereka," kata Dadang.
Posisi Indonesia sendiri hampir mendekati negara-negara bunuh diri, seperti Jepang, dengan tingkat bunuh diri mencapai lebih dari 30.000 orang per tahun dan China yang mencapai 250.000 per tahun.
Ada apakah dengan Fenomena ini? Haruskah kita berdiam diri, sementara Pemerintah sebagai penanggung jawab kesejahteraan sosial Masyarakat bersembunyi dibalik alasan : Keterbatasan dana.
Masyarakat kita di Indonesia betul-betul luar biasa. Di dunia Barat, mereka yang ketidak mampuan ekonomi tetap mendapat jaminan dari Pemerintahnya. Padahal mereka ada pada dunia kapitalisme. Bagaimana di Indonesia. Tadi dikatakan masyarakat kita luar biasa karena tetap bisa hidup walau tidak ada jaminan sama sekali dari pemerintah. Tidak ada yang gratis di bumi Indonesia ini, semua perlu uang. Ini Ironi. Karena Pancasila kita dan UUD45 melindungi Fakir Miskin dan Anak Terlantar. Pada prakteknya tidak.
Harus berapa lama lagi tragedi bunuh diri masyarakat demi melarikan diri dari himpitan ekonomi didiamkan? Dan berapa lama lagi, pemerintah bisa keluar dari ironi kalau perlindungan Fakir miskin dan anak terlantar adalah dipelihara oleh Negara namun prakteknya tidak dilaksanakan.
Kalau masyarakat bisa mendapatkan daya beli, kesejahteraan masyarakat bisa maksimal, hal ini akan memudahkan pemerintah melaksanakan tugas-tugasnya. Bagaimana caranya? Semua kan perlu uang.
Mohon para pejabat pemerintah saat ini, menelaah dan segera hubungi UTAnIU, karena solusi sudah disiapkan dan ada jalan keluar untuk kemaslahatan masyarakat kita. Niscaya, tragedy bunuh diri karena himpitan ekonomi dan ironi kewajiban pemerintah dalam kesejahteraan masyarakat dapat dilaksanakan pada tingkat proporsi yang ingin dicapai.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment